Perempuan Jogja

“Aku benci kereta, dia selalu membawamu pergi, tapi aku merindukan suaranya, detik-detik yang selalu membuatku berdebar-debar tiap kali menunggu dan membawamu kembali.”

keluh Mia si putri sulung dari keluarga yang tinggal dekat dengan keraton. Perempuan Jogja, berparas sederhana yang menampakkan keluguan. Perempuan yang selalu terlihat anggun di mata kekasihnya Echana.

Echana tersenyum mendengar keluhan lugu dari kekasihnya, ia bagai anak kecil yang menyembunyikan kue kesayangan di depan temannya. Di Stasiun Tugu Jogja, stasiun yang paling terkenal menyimpan banyak kenangan bagi tiap orang yang meninggalkan cintanya sebentar di kota pelajar. Tempat setiap harapan selalu hanyut dalam hiruk pikuk suasananya. Sembari menunggu kereta, Mia bertanya banyak bagaimana kehidupan kekasihnya di kota besar. Echana menunjuk tangan ke arah perempuan kota yang sedang berjalan di depannya, perempuan yang memakai celana sependek paha dan baju tanpa lengan dengan kerah sepanjang dada.

“Apa yang kamu nilai dari perempuan itu?”
“Cantik, seksi..” kata Mia.
“Iya, tapi aku tidak mau, jika kamu nantinya ikut aku ke kota penampilanmu seperti itu, aku mencintai Mia, perempuan Jogjaku yang sederhana dan anggun dengan pakaian yang bermartabat.”

Begitulah Echana, pria yang selalu menilai tinggi wanita dari kesederhanaan dan keanggunan dari perilaku wanita, ciri khas perempuan Jogja yang masih memegang tinggi nilai-nilai adat leluhurnya, seperti Mia kekasihnya.

Sayup-sayup suara kereta dari kejauhan seolah-seolah memburu waktu Echana untuk segera pergi. Ia memakaikan gelang kepada Mia, sebuah batu berlian yang cahayanya begitu memukau. Berlian yang secantik Mia.

“Jangan menangis Mia, nanti setibanya aku kembali, aku akan membawakanmu berlian yang lebih cantik dari ini, jauh lebih cantik.” Pesan Echana yang pergi dengan membawa semua kenangan Jogja dan Mia. Pergi dengan separuh semangatnya untuk Mia dan hasratnya untuk kembali dengan ribuan cita-cita.

katakan aku seperti anak kecil

kali ini,
katakan aku seperti anak kecil.
Aku sedang menginginkanmu, seperti aku mengejar kupu-kupu di padang rumput.
Aku sedang enggan berpura-pura malu,
Enggan bergaya perempuan idola masa kini.
meninggalkan sejenak tinggi bahasa.
tanpa setangkai bunga, tanpa sekotak coklat.
Aku bosan dengan candle light dinner di hari gelap.
Aku hanya ingin duduk bersamamu mencicipi es krim di padang hari.
Lalu menciumku dengan setengah tawa kecil.

Asa

Kamu tau? lampu itu tidak bersinar seperti apa yang terlihat. Hanya percikan-percikan cahaya kecil yang bergumul. Hingga membuatnya terlihat berpijar dan tak pernah redup. Mungkin aku, masih saja menjadi percik-percik kecil. Menjadi Kumparan asa dan Letupan harapan….

Aku dan mimpi-mimpimu

Pada hari itu, kau datang jauh dari seberang kota
Untuk waktu-waktu yang hilang dalam kebersamaan.
Ketika aku menemuimu, ada seri-seri di lesung pipi sebagai penawar duka.
Kau selalu datang untukku,
Berkat aku dan mimpi-mimpimu.

Pada jam-jam itu, sesekali kau memejamkan mata,
berharap pertemuan ini bukan sekedar mimpi,
dan hilang terbangun di dunia nyata.
Dan kau mencoba meraba lekuk wajahku,
dan kau simpan dalam sanubari untuk waktu yang lama.
Kau nyata datang untukku,
Berkat aku dan mimpi-mimpimu.

Pada pertengahan waktu sebelum di penghujung perpisahan,
aku mulai semakin mengerti kelembutan hatimu,
menyentuh hati semua orang, dan meredam semua amarah lepas.
Begitu juga sebaliknya, aku mengerti menenggelamkanmu dalam ketenangan.
Dan mengisiku di celah-celah kosong lentera hati,
Dan dirimu pejam mata dalam keheningan.
Semua ini, berkat aku dan mimpi-mimpimu.

Pada detik-detik di penghujung perpisahaan itu,
Matamu berkaca-kaca sembari memelukku dengan penuh getir.
Penuh resah ketika kau pergi dan jika datang kembali membawa rasa kecewa padaku.
sebaris senyum saja,
dan aku mengatakan sekali lagi,
Kamu datang untukku berkat aku dan mimpi-mimpimu,

Dimanapun kita berada, dan dimanapun kita bertemu
Aku dan mimpi-mimpi yang membawa kita tegar dalam air mata.
Ketika kau harus pergi, Aku masih bahagia, tiada segenap kecewaku.
berkat aku dan mimpi-mimpimu.

Satu hari.

Kalau saja memang suatu saat nanti kecewa itu datang, beri aku jeda. Hidup tidak selamanya selalu memberi nafas. Ada kalanya mati suri. Supaya kita tau bagaimana rasanya. Bagaimana memulai dan mengakhiri, kesakitan, dan hidup dalam serba keterbatasan. Dan aku tidak mengukurmu hanya dari rasa kecewa. Kalaupun benar, biarkan aku putus asa untuk satu hari saja. Agar kamu menguatkanku esok hari.

DeJaVu

Lilin itu tidak berpijar dengan sendirinya.
Ia membutuhkan campur tanganmu.
Bagaimana menjaganya untuk tetap berpijar,
dan terkala redup.
Hingga menunggu waktu, kapan saatnya dapat berpijar kembali.
Seperti DeJavu,.

Tuhan,

Comfortable, No description

Nyaman.
Itu adalah satu kata yang mencakup semua cara-caramu memberikan cinta yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Berawal dari sejumlah lelucon cerdas yang setiap hari menguasai sisi gelap melankolia. Setiap tingkahmu, gerak gerik tubuhmu, raut wajahmu, lesung senyummu, bahkan jauh sampai ke dalam pikiranmu. Pikiran yang selalu menguasai emosi dengan stabil, tau kapan harus membebaskan dan menjaga, membiarkan semuanya terjadi apa adanya.

Satu kata nyaman itu…hanya menghabiskan waktu untuk menjelaskan kepadamu, bagaimana dan dimana letak rasanya. Menghabiskan hari, yang terus menerus tidak tau lagi bagaimana rasanya menangis haru. Juga, membuat kata-kata terindah yang aku tidak tau cara merangkainya.

Tidak cukupkah kamu mengerti,
bahwa nyaman sudah mencakup semua kebahagiaan darimu.
Rasa nyaman ini tidak perlu penjabaran,
Rasa nyaman ini hanya perlu dijaga dan kadang butuh dibebaskan.

Ya, seperti ini rasanya…

Always be my favourite


When we first fell in love
I thought that nothing could compare
To the magical romance
That you and I had come to share.

But as time passed, feelings deepened,
And our closeness grew
The romance turned into
A real and lasting love with you.

You care for me in all the ways
I want and need so much.
I’ve felt your warmth and tenderness
With every word and touch.

I know I can depend on you
For support and honesty,
That patient understanding
That you always give to me.

There’s a special kind of happiness
That only love can bring,
And I’ve found that happiness with you…
You always be my favourite.

Real..


Hanya dengan satu tatapan,
Hanya dengan satu dekapan saja,
Kamu bisa membuatku.
Diam…

Proses

Bayangkan, ketika hari itu aku mulai berjalan lambat kemudian jatuh. Hal itu tidak semudah angan bahwa bangun, berjalan cepat, hingga berlari tidak membutuhkan waktu sedikit untuk kembali mempelajarinya. Ketika dia, atau mereka yang datang kepadaku mengingatkan kembali bagaimana cara untuk memulai dari awal lagi, memulai untuk bangkit kembali, aku berterima kasih, dan tentu saja, proses itulah bagian terpenting, bukan pada saat aku dapat berjalan cepat hingga berlari.

Air mata dan tawa itu selalu ada dalam setiap langkah dan proses,
Dan kita mulai mengerti artinya mengisi dan menghargai setiap langkah-langkahnya.

Tapi, ketika kamu yang semudah itu menjatuhkanku hanya dalam sekejap.
Dan kamu yang kembali dalam keadaan aku telah berjalan, berlari dan tegap berdiri.

Kamu, tidak ada dalam semua bagian proses itu.
Tidak ada.

Karna aku sudah berdiri tegap seperti ini,
proses apa yang harus dimulai??

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.