17 Tahun tepatnya

Oktober 19, 2009

Ingat, Kapan terkahir kali kamu berhenti memegang botol susu??
Ingat, Kapan terakhir kali kamu merayakannya bersama dengan keluargamu?
Ingat, Foto-foto mungil yang terselip dalam buku-buku album kenangan?
Ingat, Bertumpuk-tumpuk keranjang mainan yang tersusun rapih di gudang?

Aku tahu bahwa kamu adalah pria lucu yang tidak pernah mengakui
Bahwa dirimu Pemalu, sedikit bicara dan besar gengsimu yang selalu takut dinilai orang sebagai anak norak, anak mami atau anak kampungan.
Tempramen yang terkadang menghambatmu dalam kedewasaan emosional.
Namun jauh dan terlepas dari itu, hatimu peka rasa
Terlalu peduli dengan kata-kata orang
Karna aku sering melihatmu terkadang bisa menangis karna luka.

Oh, hei!
Jangan bilang kakakmu ini alay, alias anak lebay
Yang menanggapi semuanya selalu berlebihan.
Aku kadang hanya menanggapinya terlalu bergembira
menunjukkan apresiasi kepada banyak orang
Dan ingin sedikit saja dihargai, walaupun kamu tidak pernah menghargainya.

Hitung saja,
Kita pernah tinggal dalam 17 tahun 1 atap merangkai mimpi bersama-sama,
Dan yang ke 17-nya, tidak lagi,
karna kita mencari tujuan mimpi sendiri-sendiri

Meskipun terpisah oleh kota
Meskipun kita saling mengejek dalam tawa
Meremehkan satu sama lain
Saling merengek dan bertengkar
Kita tetap satu kandung darah, satu saudara
Sebagai adik dan kakak
Yang akan selalu mengingat hari ultah saudara kandungnya

Bait ini aku persembahkan untukmu
Selamat Ulang Tahun Adikku, yang ke 17 tahun tepatnya.
Semoga filosofi hidup yang mengikutimu menjadikanmu lebih dewasa
Semoga Tuhan memberkati hari-harimu.

ke-370

Oktober 19, 2009

Aku menulis dengan hati dan perasaan
1 prosa, 2 prosa…
1 baris, 2 baris. …
1 bait, 2 bait….
Meretas makna dalam sunyi
Mencari filosofi hidup

…….

Sesampainya di titik hening
Aku berhenti menulis
Untuk apa aku lanjutkan
Buah karya,
ke-370

Terjawab dengan rasa

Oktober 19, 2009


Mendengar suaramu, sudah seperti mengobati rindu.
Namun sebentar saja, tidak ingin kulanjutkan untuk mendengar.
Perlahan air mata kita jatuh, sudah buatku mengerti apa yang terbesit dalam nuansa perasaan.
Seberapa banyakpun kau bertanya, Aku diam dalam air mata.
Dan mungkin kau tetap berusaha menemuiku di setiap sudut ruang kota. Hanya untuk memuaskan hatimu yang tertutup rindu yang berkelana mencari jawaban dariku yang selalu bungkam.
Seberapa lirih suaramu bergetar rendah, sudah buatku mengerti menyesali keadaan ini.
Seberapa banyak juangmu mengalahkanku dalam keadaan ini.
Mencoba membangkitkan rasa gembira yang palsu untuk mengalihkanku.

Aku tetap terjaga, bahwa kita berada diruang kenyataan yang tidak lagi Satu.
Aku tetap diam, aku bungkam

Tidak butuh lagi jawaban, tidak mengerti mana diantara satu yang benar.
Selain nada lirih suara dan air mata.
Yang menjawab semua rasa. Dan aku pun tau,
Begitu juga denganmu.
Kita sama-sama tidak bahagia.

Balada ego

Oktober 19, 2009

Ego…mengapa terkadang bikin sakit?
Ego membuatku bahagia, tetapi tidak dengan dia???
Tidak akan..
Caraku mencintai tidak selalu ditutupi ego yang bengis.
Caraku mencintai membiarkan seseorang yang aku sayang bisa bahagia,
Meskipun aku rela berkorban sakit, karna aku menyayanginya

Dalam hati berkata,

Kamu sayang dengannya?
Bercanda!!
Kamu sayang tapi membuat hatinya sakit dan menangis.
Mencintai adalah membuat dia bahagia, bukan membuat dia menangis dan dipaksa.

Ya, itulah balada ego memiliki
Membuat menang sendirian tanpa peduli esensi sayang untuk membahagiakan orang yang dicintai
Lanjutkan ego,
Dan temui sendiri jawabannya
Selain duka dan lara atas satu yang menang.
Dipaksa…
Mendapatkan raga bukan jiwa.

Bahagia di ruang pilu

Oktober 17, 2009

Sungguh,

Jiwaku

aku membiarkan rasa ini berlalu, ini semua tidak membuatku geram. Meskipun keagungan cinta itu harus terpendam beribu-ribu debu. Keagungan itu trus ada meskipun tertimbun lebih mengakar. Rasa itu jauh lebih mengena di hatimu, meskipun aku di ruang bungkam dan tenggelam, hingga luka hati menganga lebar.

jiwamu..

takkan peduli seberapa kuat menghantammu, meskipun keadaan di luar sana memaksa menimbun ragamu. Jiwamu berusaha menampik, mencari daya menjumpai jiwaku, meskipun kadang membiarkan tubuhmu tertindih sakit, membiarkan ragamu terjebak lebih jauh dan sesat.

ragaku dan ragamu,

satu dalam goresan cinta, menahan hasrat bahagia di ruang pilu..

Engkau dan aku

Oktober 17, 2009

teruntuk engkau;

teruslah melenggang pada alurmu; tidak; tak usah perdulikan liku di jalanku
pun andai hujan masih memeluk hingga gigil menenggelamkanku dalam sepi, kau tak perlu tau itu
bukankah badai di penghujung senja lebih indah di matamu?

dan aku;

lentera yang kusembunyikan di sudut bayang-bayang kenangan hampir habis sumbu
pijarnya tak sekilau dahulu; ketika senja masih memukau dengan bias warna tanpa ragu
entah; dimana mentari sembunyikan wajahmu dari kalbu
hingga kemegahan cintamu tak lagi menawar beribu kepingan rindu

engkau dan aku;

tak kan jadi satu, hingga habis waktu

(copy paste: echanalukman from kemudian.com)

Euforia palsu

Oktober 17, 2009

aku hanyalah aku
menusuri keramaian dengan aura mendung
biarkan saja yang lain berbising satu sama lain
menghiburku di sela-sela melankolia suram
nyanyian gila di sudut-sudut kota
mulut berlesung lebar senyum memaksa
mencoba menawar sendu-sendu rintihan pedih
hiruk pikuk tanpa makna hanya membuat gaduh

Euforia palsu!!!
aku hanyalah aku.
dingin memendam ego.

p.s: mencoba merenung dengan lebih dalam tanpa hanyut dan lebur.

sejenak kata angin.

Oktober 16, 2009

Hatimu laksana Angin..
dengan mata terpejam,
aku terombang ambing tenggelam terjerumus alur..
lembut, namun tersentuh belaian rasa.
pandanganku terpejam, tak mampu menerawang.
ketika mataku terbuka, kau membawaku pada kejutan kebahagiaan.

hatimu laksana angin,
cukup dengan perasaan
hanyut dalam pendengaran.
kemana arahmu pergi.
aku hening dengan hati
aku diam dalam suara.
dan aku mengerti.
alurmu selalu membawaku pada titik kebahagiaan.

ketika aku tak mampu
aku diam,
aku hening.
lalu kubiarkan kau angin..
berkelana
menderu perlahan hambar
pergi tanpa meninggalkan belaian

aku tak mampu beranjak..

kubiarkan kau pergi,
menunggu angin berikutnya
membawaku kebahagiaan baru.
yang tak mudah tercerabut
yang tak mudah menepi.
yang selalu memberi rasa.

sejenak kata angin,
aku diam dalam suara..
mencari alurmu dalam sunyi.
dan tak ingin menepi.

Daun-daun kering

Oktober 16, 2009

Aku membiarkan daun itu tumbuh.
berharap daun itu bisa menemani bunga yang menawan.
menambah warna yang berbeda dalam satu tangkai.
melengkapi keindahan satu sama lain.

tapi mengapa…
Daun takkan pernah hijau
Selalu menguning
dan lepas dari dahannya
bungapun ikut mengering seperti daun-daun yang tak lagi sanggup untuk menemani.

mengikuti musim
mengikuti waktu

ingin mengakhiri semuanya dengan air..
hingga daun itu tetap hijau ditempatnya
dan bunga itu tetap bertahan pada pucuknya.
hingga waktunya habis.
dan yang tersisa hanya.

daun dan bunga itu dulu..
pernah tumbuh dengan menawan di taman itu.
dan akan melekat dalam ingatan.

daun-daun kering.
aku masih mengingatmu…

Fragment

Oktober 15, 2009

Serpihan puzzle…and fragment.

Begitu aku menyebutnya. Sesuatu yang terlihat sempurna tidaklah penting.
Kamu mengerti, bahwa itu botolnya dan itu tutupnya.
Tapi apakah kamu mengerti cara memasangkannya?

Kamu mengerti itu potongan puzzlenya, bergambar kepala dan ada yang bergambar ekor.
Tapi apakah kamu mengerti bagaimana cara memasangkan kepala hingga ekornya menjadi suatu kesatuan?

Setiap orang pasti berbeda cara melakukannya dengan benar.
Ada yang memasang tutup botolnya miring,
ada yang memasang tutup itu dengan cara yang kasar,
ada yang memasangnya dengan cara mengikuti alur botolnya.
Hingga terpasang rapat dan tidak ada lagi air yang tumpah melalui celahnya.

Setiap orang juga pasti berbeda cara memasang puzzlenya,
ada yang dimulai dari ekor, ada yang dimulai dari kepala.
ada yang memasang terbalik, dan juga ada yang memasangnya dengan cara yang benar.

Mengetahui semua hal dengan mata, tetapi lupa
Lupa, bagaimana melakukan caranya dengan benar dan pas.

Dan setiap orang berbeda,
Setiap kamu mencoba bermain musik, membuat suatu masakan.
Setiap orang berbeda rasa, berbeda cara.
Naluriah.

dan akan tetap, tercerai berai.

Berhenti.
Kecuali,
Aku mengerti dengan pandangan mataku dan mengerti dengan caraku.
tidak ada yang saling melengkapi
hanya menemukan kembali potongan satu lagi.
hingga tidak lagi.

Fragment.

-original writing by windy-