Pada hari itu, kau datang jauh dari seberang kota
Untuk waktu-waktu yang hilang dalam kebersamaan.
Ketika aku menemuimu, ada seri-seri di lesung pipi sebagai penawar duka.
Kau selalu datang untukku,
Berkat aku dan mimpi-mimpimu.
Pada jam-jam itu, sesekali kau memejamkan mata,
berharap pertemuan ini bukan sekedar mimpi,
dan hilang terbangun di dunia nyata.
Dan kau mencoba meraba lekuk wajahku,
dan kau simpan dalam sanubari untuk waktu yang lama.
Kau nyata datang untukku,
Berkat aku dan mimpi-mimpimu.
Pada pertengahan waktu sebelum di penghujung perpisahan,
aku mulai semakin mengerti kelembutan hatimu,
menyentuh hati semua orang, dan meredam semua amarah lepas.
Begitu juga sebaliknya, aku mengerti menenggelamkanmu dalam ketenangan.
Dan mengisiku di celah-celah kosong lentera hati,
Dan dirimu pejam mata dalam keheningan.
Semua ini, berkat aku dan mimpi-mimpimu.
Pada detik-detik di penghujung perpisahaan itu,
Matamu berkaca-kaca sembari memelukku dengan penuh getir.
Penuh resah ketika kau pergi dan jika datang kembali membawa rasa kecewa padaku.
sebaris senyum saja,
dan aku mengatakan sekali lagi,
Kamu datang untukku berkat aku dan mimpi-mimpimu,
Dimanapun kita berada, dan dimanapun kita bertemu
Aku dan mimpi-mimpi yang membawa kita tegar dalam air mata.
Ketika kau harus pergi, Aku masih bahagia, tiada segenap kecewaku.
berkat aku dan mimpi-mimpimu.
