sejenak kata angin.

Oktober 16, 2009

Hatimu laksana Angin..
dengan mata terpejam,
aku terombang ambing tenggelam terjerumus alur..
lembut, namun tersentuh belaian rasa.
pandanganku terpejam, tak mampu menerawang.
ketika mataku terbuka, kau membawaku pada kejutan kebahagiaan.

hatimu laksana angin,
cukup dengan perasaan
hanyut dalam pendengaran.
kemana arahmu pergi.
aku hening dengan hati
aku diam dalam suara.
dan aku mengerti.
alurmu selalu membawaku pada titik kebahagiaan.

ketika aku tak mampu
aku diam,
aku hening.
lalu kubiarkan kau angin..
berkelana
menderu perlahan hambar
pergi tanpa meninggalkan belaian

aku tak mampu beranjak..

kubiarkan kau pergi,
menunggu angin berikutnya
membawaku kebahagiaan baru.
yang tak mudah tercerabut
yang tak mudah menepi.
yang selalu memberi rasa.

sejenak kata angin,
aku diam dalam suara..
mencari alurmu dalam sunyi.
dan tak ingin menepi.

Mencari rahasia kebahagiaan

Oktober 15, 2009

Kisah ini saya tulis sebagian, sehabis saya membaca buku novel filosofi kristiani Paulo Coelho yang berjudul “The Alchemist”.

Seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di dunia. Anak itu melintasi padang pasir selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan melihat kesibukan besar di dalamnya, para pedagang berlalu lalang, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orkestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan paling enak di belahan dunia tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu, barulah tiba gilirannya.

Si orang bijak mendengarkan dengan saksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun dia mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali dua jam lagi.

Sementara itu aku punya tugas untukmu, kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok the berisi dua tetes minyak.

“Sambil kau berjalan-jalan bawa sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah.”

Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

Nah, kata si orang bijak,

“apakah kau melihat tapestry-tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku?bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?”

Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu terfokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

“Kalau begitu, pergilah lagi berjalan-jalan, dan nikmatilah keindahan-keindahan istanaku” kata si orang bijak. “Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya.”

Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut, kali ini dia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia menikmati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan bunga-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu di sana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, diceritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

“Tapi dimana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu?” Tanya si orang bijak.

Si anak muda memandang sendok di tangannya, dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

“Nah, hanya ada satu nasehat yang bisa kuberikan untukmu kata orang paling bijak itu. Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu.”

Si anak gembala tadi mengerti apa kata orang bijak tersebut.

P.s:

Semua orang boleh merasakan semua kebahagiaan di dunia ini, tetapi jangan melupakan apa yang mereka punya.
Seorang suami/istri yang menikmati kebahagiaan mereka dalam karir dan uang tidak boleh melupakan anak dan kluarganya.
Seseorang yang sudah mempunya pasangan boleh menikmati keindahan pria dan wanita lain, akan tetapi tetap syukurilah apa yang sudah menjadi milik kita.

Selama kita masih mencari kebahagiaan di luar tanpa mempertahankan apa yang kita punya, kebahagiaan itu tidak akan berakhir dan berujung melainkan semu.

Seberat sampah.

Agustus 28, 2009

Kenapa kau datang lagi kepadaku? Bukankah dirimu sebenarnya telah abadi dengannya? Dan setiap dirimu berucap, bahasamu berat seberat sampah. Kenangan darimu banyak sebanyak sampah. Bahkan tipu dayamu sudah berlimpah sama seperti sampah. Juga waktu-waktu yang banyak terlewatkan berlalu seperti tumpukan sampah. Mau apa lagi? Mau menambah lagi tumpukan sampah?
Aku tidak mau lagi memperhatikan sampah-sampah yang sudah kamu tumpuk.
Aku kehilangan arti…Untrust! Dan kamupun juga merasakan akhir dari semua melodrama yang kamu mainkan. Tak ada satupun yang kamu dapatkan. Melainkan hanya setumpuk sampah dan kenangan seberat sampah.

p.s: Misuh? tidak perlu. Pengandaian sarkastik itu jauh lebih elegan. Jangan takut sahabatku Dania Prasetyati, aku selalu ada buatmu. =)

Ini adalah sebuah perbincangan yang penuh makna antara saya dan sahabat saya Mas Agung, pria berumur 29 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan Batu Bara Kalimantan. Dy adalah sahabat saya yang entah kenapa selalu membuka jalan pikiran saya untuk memaknai kehidupan.
Waktu dy baca-baca blog saya yang judulnya “Guntur, Sobat kecil yang hebat”
Waktu mas Agung merasa kangen dengan suasana KKN semasa dy kuliah dulu, secara gak sadar dy bilang :

“Jadi bukan masalah KKN atau apa win. Aku ngerasanya gini, cuma selembar kertas putih yang setelah dicoret2 oleh cerita kehidupan ditumpuk trus kalo udah banyak lalu dibakar. Parah bener nih.. seakan2 ga ada yg tersimpan”

Sebenernya kalimat itu sebuah penyesalan atau apa sih kawan…..?
Selintas saya berpikiran, gak cuma Mas Agung saja yang berpikiran seperti itu. Pasti banyak sekali dan hampir semua orang mempunyai kehidupan layaknya “Hidup seperti selembar kertas putih lalu di coret-coret kemudian dibakar.” Dan ada seseorang yang datang dan mengatakan kepada saya

“Masa lalu itu tidak perlu diingat atau diratapi, lihat saja apa yang ada di depan.”

Saya juga tidak mengerti dan mengapa hampir semua orang tidak mengerti apa yang mereka pelajari dalam 1×24 jam di kehidupannya. Menganggap hidup biasa-biasa saja, membuang waktu tanpa mengerti apa yang mereka pelajari, mengalir tanpa menyaring apapun yang dapat diambil. Hingga arti hidup dalam 1×24 jam terbuang percuma, kosong, dan tidak ada artinya. Lalu, sahabat saya Mas Agung mulai bertanya:

Mas Agung : Sebenarnya apa sih yang kita kejar?
Saya : Yang kita kejar? tidak ada. Hahaha..
Mas Agung : hahah…wrong answer!

Sebentar, di sini saya mulai berfikir. Bahwa jawaban saya itu serius. Memang, Tidak ada yang saya kejar dalam kehidupan saya, tapi saya tetap mempunyai cita-cita dan mewujudkannya. Kenapa jawaban saya dibilang “Wrong Answer?”. Lalu saya mulai mencuci otak sahabat saya ini. Mengapa tidak ada yang saya kejar dalam kehidupan saya.

Saya mengatakan :
Saya tidak tahu kalo di suruh jawab pertanyaan “apa yang saya kejar?” tapi kalau saya ditanya “apa yang saya dapat” saya bisa jawab. Bagaimana kalau kita ubah saja kalimatnya dari “apa yang saya kejar” menjadi “apa yang saya dapat.” Rasanya kalimat dari “apa yang saya kejar” adalah mengejar sesuatu yang kosong dan belum mendapatkan apa-apa.” Tapi kalau “apa yang saya dapat” semua rasanya sudah terkejar. Itu akan menjadikan kita lebih kaya, belajar dan memaknai hidup. Selain itu melatih kita untuk lebih bersyukur.

Kalau ada yang bilang, hidup biasa-biasa saja itu tidak mungkin. Hari itu terus berganti maju, jam selalu berputar dari kiri ke arah kanan, begitu juga dengan arah matahari terbit dan tenggelam. Tidak mungkin dalam 1×24 jam tidak ada pelajaran berharga dalam hidup. Bahkan saya mengatakan pada sahabat saya,

Saya:
“Coba kamu rekam kembali percakapanmu dengan sahabatmu, atasanmu, sampai office boy di kantor dan siapapun yang ada di sana, walaupun kecil saja tapi itu adalah pelajaran berharga yang tanpa sadar kamu lewatkan begitu saja.”

Mas Agung:
“Bosku gila, sahabatku stress. Dan di sini adanya abu-abu win, kamu akan susah membedakan mana yang hitam dan mana yang putih.”

Saya:
“Kamu bilang seperti itu saja sebenarnya sudah belajar, apa artinya abu-abu, apa artinya hitam dan putih. Tapi kamu anggap hal itu adalah biasa.”

Mas Agung:
“Seperti pembelajaran yang tidak digunakan, karena cuma sebatas wacana.”

Saya:
“Siapa bilang tidak berguna?kamu menceritakan hal ini kepada saya itu sudah berguna buat saya. Bahkan sampai kamu tua, kamu akan menceritakan sebagian pengalaman hidupmu dengan anak-anakmu, sampai cucumu. Itu berguna.”

Ya, saya katakan dengan jelas, hidup itu berharga, dalam 1×24 jam hidup itu bermakna. Cukup ingat, rekam dan dengarkan. Itu adalah langkah dari memulai pembelajaran hidup. Dan begitu kita mendengar “Apa yang sudah saya dapat” maka kita sudah berhasil memaknai dan menghargai hidup kita dalam sehari-hari.

p.s : makasih Mas Agung bincang-bincangnya tadi malam. Perbincangan ini sungguh berguna untuk kita dan pembaca blog ini. Lalu, setelah ini “apa yang sudah saya dapat” ketika saya selesai menulis hal ini? pasti ada yang saya dapatkan.

Waktu

Agustus 19, 2009


Waktu terkadang lambat bagi mereka yang menunggu,
terlalu cepat bagi yang takut,
terlalu panjang bagi yang gundah,
dan terlalu pendek bagi yang bahagia,
Tapi bagi yang selalu mengasihi,
waktu adalah keabadian.

Inspirasi

Agustus 17, 2009


Seorang pelatih golf berkata kepada muridnya:
“Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?”

Ada yang menjawab:
“Cari mulai dari bagian tengah”

Ada pula yang menjawab:
“Cari di rerumputan yang cekung ke dalam”

Dan ada yang menjawab:
“Cari di rumput yang paling tinggi”

Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat:
“SETAPAK DEMI SETAPAK CARI DARI UJUNG RUMPUT SEBELAH SINI HINGGA KE RUMPUT SEBELAH SANA”

p.s: Jalan menuju keberhasilan cukup melakukan segala sesuatu demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.


Senja yang muram hanya akan datang sementara, mengikuti angin
Pejamkanlah matamu sesaat, maka senja akan kembali…

…dengan semburat indahnya..

Dan aku diam seribu bahasa memandang indah tepi batas bumi di ujung sana.
Menimati angin ketenangan…
Dan jiwa yang teduh, bersandar pada bahumu yang membawa kebahagiaan.
Seperti relung yang hangat atas makna yang tergambar pada lesung senyummu.

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah dengan kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.

Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain. Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, dan cara dia memandang dunia. Karena dimatanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, dimana cinta dapat berkembang.

Kecantikan wanita bukan terletak pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tetap tumbuh sepanjang waktu.

p.s : keren abis notes ini, saya suka..

sumber : inspirasi2.wordpress.com

Lagu ini dikasih sahabat waktu lagi curhat-curhatan, sahabat saya berpesan semoga mantap dalam memilih.
Better or Worst :

coba coba katakan kepadaku bahwa kita sedang berjalan menuju satu alasan,
janganlah kau katakan bila kita memang tak ada tujuan, dari apa yang dijalankan,

aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..

coba coba katakan kepadaku sekali lagi bila kita memang benar akan kesana,
buktikan dan buat aku percaya bahwa kita bisa, mewujudkan bahagia,

aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..

habis sudah semua rangkai kata..
telah terungkap semua yang kurasa..
yang kuingin akhir yang bahagia..

yang ku inginkan..
satu tujuan..
sebuah kenyataan..
bukan impian..
bukan harapan..
bukan alasan..
satu kepastian..

By : maliq & d’essentials
Judul : Coba Katakan




Butuh keheningan untuk berfikir lebih jernih, cuma kopi susu yang membuat saya tenang.

In the past and future.

Juni 19, 2009


“When one door of happiness closes, another
opens; but often we look so long at the closed
door that we do not see the one which has been
opened for us.”

by Helen Keller